Tahadduts Binni‘mah: Cerpen dan Payung Merah
Tahadduts binni‘mah adalah menceritakan atau menampakkan nikmat Allah sebagai bentuk rasa syukur, bukan untuk pamer (riya’), melainkan untuk mengagungkan Allah dan memotivasi orang lain agar berbuat kebaikan.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Ad-Dhuha ayat 11:
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu sebutkan.”
Syukur dapat diwujudkan melalui ucapan, perbuatan, dan perilaku baik yang patut dicontoh, dengan niat yang lurus—semata-mata karena Allah.
Karena itulah, setiap kali saya menerima nikmat, saya berusaha membagikannya melalui media sosial dan blog pribadi, sebagai bagian dari rasa syukur itu.
Alhamdulillah, biidznillah…
Hari ini, Selasa, 30 Desember 2025, siang, saya kembali menerima kabar gembira. Kabar itu datang dari Mas Abdul Qoyyum, yang bertugas di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bojonegoro.
Melalui pesan WhatsApp, saya menanyakan apakah Majalah Mimbar Pembangunan Agama—yang diterbitkan oleh Koperasi Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Jawa Timur—sudah tersedia di tempat ia bekerja.
Ia menjawab: sudah.
Saya pun memintanya membuka halaman demi halaman majalah tersebut, sambil memastikan: apakah cerpen karya saya dimuat di sana?
Tak berselang lama, ia mengirimkan dua foto halaman majalah yang memuat cerpen saya.
“Luar biasa, mantap, Pak,” tulisnya pada keterangan gambar.
Akhirnya, teka-teki yang menggelayut di benak saya sejak sepekan terakhir terjawab sudah hari ini.
Semuanya bermula pada Senin, 22 Desember 2025. Usai jamaah Ashar, sebuah paket kecil terbungkus plastik hitam diterima oleh anak kedua kami, Azimatun Faiqotuz Zahro. Ia lalu menyodorkannya kepada saya.
“Ada paket untuk Ayah,” tuturnya.
“Dari mana, Dek?” tanya saya, heran. Sebab saya merasa tidak sedang check out apa pun di toko daring.
Saya perhatikan alamat pengirimnya. Tertulis: Majalah Mimbar Pembangunan Agama Kanwil Kemenag Jawa Timur.
Rasa penasaran pun kian menjadi. Ditemani Azim, saya membuka bungkus paket itu. Isinya sebuah payung berwarna merah, bertuliskan logo Mimbar Pembangunan Agama.
Di benak saya langsung muncul tanda tanya besar: ini hadiah dalam rangka apa?
Sebab, saat paket itu kami terima, belum ada informasi apa pun tentang terbitnya majalah versi cetak.
Saya hanya menduga-duga. Mungkinkah cerpen yang saya kirim pada 21 November 2025 lalu dimuat?
Hehehe…
Dan hari ini, Selasa siang, dugaan itu terjawab sudah. Saya akhirnya bisa memeluk Majalah Mimbar Pembangunan Agama yang kini tersedia di ruang Tata Usaha.
Pengalaman sederhana ini kembali menyuntikkan semangat untuk terus berkarya. Betapa menyenangkan menerima penghargaan—sekecil apa pun—atas sebuah karya.
Allahumma, berkah, istiqamah, dan nular.
Simorejo, 30 Desember 2025
Bakda Jamaah Maghrib