Catatan

Terjangkit Virus Usron


Membaca judul artikel ini, bisa jadi—karena saya tidak bisa menjamin—pembaca akan mengernyitkan dahi. Mungkin akan muncul tanya: apa itu virus Usron? 

Tenang. Duduklah santai. Sambil nyeruput kopi atau teh, sambil nyedot udut. Mari simak. Saya akan jelaskan maksudnya. 

Secara ilmiah (biologis), virus adalah agen infeksi mikroskopis yang tidak bisa hidup dan berkembang biak sendiri. Ia harus menumpang pada sel makhluk hidup lain—yang disebut inang—untuk bertahan dan memperbanyak diri. 

Namun, virus yang saya maksud dalam tulisan ini bukan virus dalam arti sebenarnya (denotatif). Ia digunakan secara kiasan atau metaforis. Virus dalam konteks ini adalah sesuatu yang menyebar dan menular, bukan penyakit, melainkan kebaikan—utamanya di bidang literasi: membaca dan menulis. 

Adapun Usron adalah akronim dari nama Usman Roin. Akronim ini saya “hadiahkan” kepada beliau. Tentu saja, sebelum mempublikasikannya, saya lebih dulu meminta izin. Dan alhamdulillah, beliau berkenan. 

Ya, Pak Usman Roin—begitu saya memanggil beliau—adalah dosen Pendidikan Agama Islam di UNUGIRI Bojonegoro. Selain itu, beliau juga mendapat amanah sebagai kepala perpustakaan di kampus tempat beliau mengabdi. 

Munculnya “virus” ini tentu tidak terjadi secara tiba-tiba—bukan ujug-ujug mak jegagik. Ada sejarahnya. 

Semua berawal dari kekaguman saya kepada beliau. Saya sering membaca artikel opini yang nangkiring di laman blokbojonegoro.com. Tulisan-tulisannya tenang, bernas, dan terasa matang—tidak meledak-ledak, tapi mengendap. 

Dari kekaguman itulah, saya memberanikan diri meminta pertemanan di Facebook. Alhamdulillah, diterima. Itu masih zamannya Facebook merajai dunia per-media-sosial-an. 

Tak lama berselang, tepatnya 20 Februari 2018, saya mengirim pesan melalui inbox untuk memperkenalkan diri. Begini isi pesannya: 

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Sugeng enjang, Kang. Tepangake, dalem Slamet Widodo, saking Kepohbaru Bojonegoro.” 

Kala itu saya memanggil beliau dengan sebutan Kang. Soalnya, foto-fotonya santri banget. Hehehe. 

Namun, pesan itu tidak berbalas. Saya menunggu—bukan sehari dua hari—melainkan bertahun-tahun. Hingga lima tahun lamanya, tetap tak ada respons. 

Pada 17 September 2023, saya mencoba kembali mengirim pesan, kali ini lebih singkat: 

Assalamu’alaikum Pak Usman.” 

Tetap tidak ada jawaban. 

Saya pun pasrah. Dan, yang terpenting, saya mencoba sadar diri. Saya memilih khusnudhon. Barangkali beliau memang sangat sibuk. Orang besar, tentu banyak urusan. Tidak sempat membuka, apalagi membalas pesan dari orang seperti saya. 

Perjumpaan di Dunia Nyata 

Gayung pun bersambut. 

Semua bermula dari buku Laraswangi—buku kumpulan cerpen yang saya cetak di Percetakan Mitra Karya, Soko, Tuban. Pemiliknya Pak M. Bagus Ibrahim. Biasanya kami memanggil beliau Pak Agus. 

Rupanya, Pak Agus Ibrahim dan Pak Usman Roin sudah berteman lama. Keduanya juga aktif bekerja sama dalam mengembangkan dunia literasi. 

Melalui sambungan telepon WhatsApp, Pak Agus mengabarkan bahwa buku Laraswangi akan diluncurkan sekaligus dibedah di Perpustakaan UNUGIRI. Mendengar itu, saya terdiam sejenak. Tak segera punya jawaban. Bukan karena menolak, melainkan karena ragu pada diri sendiri. Saya bertanya-tanya, bisa atau tidak? 

Padahal, saya pernah membedah buku perdana saya berjudul Si Miskin Berhak Sukses. Saya lupa persisnya tahun berapa. Yang jelas, sudah sangat lama. 

Pak Agus meyakinkan saya. “Sampeyan pasti bisa.” 
Akhirnya, dengan sedikit ragu tapi penuh tawakal, saya menyetujui tawaran itu. 

Tepat pada hari Rabu, 17 Desember 2025, acara temu penulis dan bedah buku yang digelar oleh Perpustakaan UNUGIRI pun berlangsung. 

Eh, ladalah… Alhamdulillah. Betapa bahagianya saya hari itu. Saya akhirnya bisa bertemu langsung dengan Pak Usman Roin. Beliau menyambut saya dengan sangat ramah, lalu mengajak saya menuju perpustakaan. 

Usai acara, saya, Pak Moh. Alim (Ketua KBM Cah Ndeso), Pak Usman Roin, dan Pak Agus Ibrahim duduk bersama. Ngobrol ngalor-ngidul, membahas literasi, menulis, dan dunia kepenulisan. 

Di sela obrolan, saya sampaikan kekaguman saya kepada beliau. Saya ceritakan bahwa saya setia membaca tulisan-tulisannya di media daring. Saya juga bercerita—dengan nada bercanda—bahwa saya pernah mengirim pesan inbox kepadanya, bahkan selama tujuh tahun belum pernah direspons. 

Mendengar itu, kami semua tertawa lebar. 

Pembicaraan pun mengalir hingga ke topik membangun blog pribadi. Pak Usman mengajak mahasiswa, dan siapa saja yang berminat, untuk menulis dan mempublikasikan karya di blog milik sendiri. Bukan sekadar menulis, tetapi juga bertanggung jawab atas pikiran dan gagasannya. 

Dari situlah saya tertarik membuat blog pribadi—yang namanya bisa dicustom, bisa saya kelola sendiri. Dan akhirnya, blog itu benar-benar saya wujudkan. 

Nah, dari sanalah istilah Virus Usron menemukan maknanya. 
Saya tertular semangat Pak Dosen Usman Roin—semangat menulis, membaca, dan menyebarkan kebaikan lewat literasi. 

Semoga virus ini menular. Dalam arti yang baik, tentu saja. 

Laraswangi, 28 Desember 2025 

Sign in to write comment. Sign in
0 Comments
No Comment